Praktikum Integrasi 2 mengintegrasikan berbagai konsep penting dalam perencanaan dan pengelolaan produksi untuk memaksimalkan efisiensi dan produktivitas. Salah satu topik utama dalam praktikum ini adalah Bill of Material (BOM), yang merupakan daftar rinci semua bahan, komponen, dan subkomponen yang diperlukan untuk memproduksi suatu produk. BOM berfungsi sebagai dasar untuk perencanaan pengadaan material dan estimasi biaya produksi. Selain itu, Operation Process Chart (OPC) digunakan untuk menggambarkan alur operasional dalam proses produksi, memetakan setiap langkah dari proses manufaktur untuk memastikan alur kerja yang efisien dan terorganisir. Assembly Chart (AC), di sisi lain, digunakan untuk menggambarkan urutan perakitan produk dan memastikan bahwa semua komponen dirakit dengan benar.

Dalam praktikum ini, juga dilakukan gambar volume decomposition dari komponen yang telah ditentukan dengan menggunakan data antropometri untuk menganalisis dimensi ruang dan desain produk yang sesuai dengan kebutuhan manusia. Identifikasi berbagai gerakan dilakukan untuk mempelajari elemen-elemen gerakan yang digunakan dalam proses produksi, yang penting untuk mengoptimalkan alur kerja dan mengurangi waktu yang terbuang. Selanjutnya, menghitung waktu baku dilakukan dengan mempelajari elemen-elemen gerakan, yang merupakan bagian penting dalam menetapkan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan setiap tugas dalam proses produksi. Proses ini membantu menentukan standar waktu dan meningkatkan efisiensi produksi.

Praktikum ini juga mencakup peramalan sebagai bagian dari perencanaan produksi, yang berguna untuk memperkirakan permintaan produk di masa depan dan membantu merencanakan jumlah produksi yang tepat. Rencana Produksi Agregat dan Perencanaan Kebutuhan Sumber Daya (MRP II) digunakan untuk merencanakan kapasitas produksi dan kebutuhan bahan baku dalam jangka panjang. Dengan menggunakan metode Rough Cut Capacity Planning (RCCP), kapasitas produksi dievaluasi untuk memastikan bahwa fasilitas manufaktur dapat memenuhi permintaan produksi tanpa mengalami kekurangan kapasitas. Selanjutnya, proses jadwal produk induk (Master Production Schedule / MPS) mengatur kapan dan berapa banyak produk yang harus diproduksi, berdasarkan peramalan dan permintaan pasar.

Terakhir, praktikum ini mencakup topik terkait dengan luas lantai pabrik dan penentuan layout, yang sangat penting dalam merancang tata letak pabrik yang efisien untuk mendukung alur produksi. Penentuan layout pabrik yang optimal bertujuan untuk meminimalkan waktu pergerakan material, mengurangi waktu tunggu, dan meningkatkan keseluruhan efisiensi operasional. Semua elemen ini bekerja bersama-sama dalam praktikum untuk memberikan gambaran yang komprehensif tentang bagaimana perencanaan dan desain produksi yang baik dapat memengaruhi kinerja keseluruhan pabrik dan daya saing produk di pasar.

Referensi

  1. Apple, J. M. (1990). Tata Letak Pabrik dan Pemindahan Bahan. Bandung: ITB Bandung
  2. Harahap, S. (2006). Perancangan Pabrik. Yogyakarta: Graha Ilmu.
  3. Iftikar Z. Sutalaksana, R. A. (2006). Teknik Tata Cara Kerja. Bandung: ITB Bandung.
  4. Sritomo, W. (2009). Tata Letak Pemindahan bahan . Surabaya: Guna Widya.

By lolyka